Sepasang Mata Bola.
Oktober 08, 2017
Yogyakarta, tahun 1945
Suara kereta berdesir keras, meninggalkan suara adzan maghrib yang terdengar samar-samar dari dalam gerbong.
Lelaki muda itu terbangun dari tidur singkatnya, menegakkan badannya yang setengah sadar.
Lelaki muda itu terbangun dari tidur singkatnya, menegakkan badannya yang setengah sadar.
'Stasiun Yogyakarta' gumamnya.
Akhirnya, ia sampai.
Ia senang bahwa ia sudah sampai pada perjalanan panjang, namun, entah ia juga merasa takut. Ia merasa bahwa ia seharusnya takut.
Akhirnya, ia sampai.
Ia senang bahwa ia sudah sampai pada perjalanan panjang, namun, entah ia juga merasa takut. Ia merasa bahwa ia seharusnya takut.
Angin sore mulai meniup bulu leher dan meninggalkan rasa ngeri di kepalanya.
Ia tak boleh takut, pikirnya.
Burung-burung itu sudah berterbangan kesana kemari, menandakan senja.
Suasana stasiun sudah sepi, terang sedikit karena lampu sudah menyala sebagian, tetapi bagian kiri tetap gelap.
Hampir malam.
Ia yakin itu ada maksudnya.
Ia tak boleh takut, pikirnya.
Burung-burung itu sudah berterbangan kesana kemari, menandakan senja.
Suasana stasiun sudah sepi, terang sedikit karena lampu sudah menyala sebagian, tetapi bagian kiri tetap gelap.
Hampir malam.
Ia yakin itu ada maksudnya.
Ini saatnya dia turun.
Ia segera berdiri, tegap, seperti seharusnya. Memakai topi kebanggaannya.
Ia ingin memakainya, setidaknya sampai ia mati.
Ia melangkahkan kakinya keluar gerbong.
Ragu? Iya. Takut? Iya.
Derapan sepatu yang lainnya sudah terdengar.
Ia kesal.
Untuk apa harus menampilkan serapih itu.
Derapan itu membangunkan sebagian penduduk Jogja.
Berkumpul melihat mereka.
Orang-orang datang.
Mereka bersorak, berteriak.
Entah untuk apa. Mungkin, mencoba untuk membangunkan.
Tapi, apakah terlintas di kepala mereka.
Bahwa kami sama seperti mereka, yang beda hanya kami lebih takut.
Bedanya, kami tahu kami akan mati.
Ia segera berdiri, tegap, seperti seharusnya. Memakai topi kebanggaannya.
Ia ingin memakainya, setidaknya sampai ia mati.
Ia melangkahkan kakinya keluar gerbong.
Ragu? Iya. Takut? Iya.
Derapan sepatu yang lainnya sudah terdengar.
Ia kesal.
Untuk apa harus menampilkan serapih itu.
Derapan itu membangunkan sebagian penduduk Jogja.
Berkumpul melihat mereka.
Orang-orang datang.
Mereka bersorak, berteriak.
Entah untuk apa. Mungkin, mencoba untuk membangunkan.
Tapi, apakah terlintas di kepala mereka.
Bahwa kami sama seperti mereka, yang beda hanya kami lebih takut.
Bedanya, kami tahu kami akan mati.
Kau tahu? Ibu kami. Saudara kami. Mereka menangis.
Mereka bilang, kami semua bodoh.
Mereka bilang, kau hanya menjemput ajalmu.
Tapi buktinya apa?
Kami disini berdiri.
di Stasiun Jogja.
Baris dengan rapih.
Tersenyum, untuk apa? Menjemput kematian? Menurut mu?
Orang macam apa yang menjemput kematian dengan berbaris rapih dan tersenyum?
Mereka bilang, kami semua bodoh.
Mereka bilang, kau hanya menjemput ajalmu.
Tapi buktinya apa?
Kami disini berdiri.
di Stasiun Jogja.
Baris dengan rapih.
Tersenyum, untuk apa? Menjemput kematian? Menurut mu?
Orang macam apa yang menjemput kematian dengan berbaris rapih dan tersenyum?
Dia berjalan di belakang yang lainnya. Menunggu perintah.
Dilihatnya sekeliling.
Berbeda, jauh berbeda dari Gambir, Senen maupun Jakarta kota. Mungkin, karena suasana yang berbeda.
Karena, kami merasa kami akan mati mungkin.
Dilihatnya sekeliling.
Berbeda, jauh berbeda dari Gambir, Senen maupun Jakarta kota. Mungkin, karena suasana yang berbeda.
Karena, kami merasa kami akan mati mungkin.
Dug.
Langkah lelaki itu terhenti. Terkejut.
Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Jendela, rumah kecil disamping rel. Remang-remang, tidak terlalu terang.
Mata itu.
Ada mata, sepasang bola mata.
Ia tersenyum.
Entah, angin sore atau senyum itu yang membuatnya merinding.
Ia terdiam sesaat.
Perempuan berbalut kebaya itu berdiri dibalik jendela kecil, tersenyum.
Layaknya penduduk lain, ia tersenyum namun, ia tidak berteriak. Ia tidak berteriak dengan mulutnya.
Namun, mata itu
Mata itu berteriak.
Mata itu berteriak agar aku tidak takut.
Lindungi kami, lindungi aku. Mata itu berbicara.
Lindungi kami dari mereka.
Kini ia merasa takut, namun ia takut bukan pada apa yang tadi ia takuti.
Jujur saja.
Ia takut.
Tak bisa melindungi para orang-orang yang sudah datang disini.
Melindungi mata itu.
Langkah lelaki itu terhenti. Terkejut.
Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Jendela, rumah kecil disamping rel. Remang-remang, tidak terlalu terang.
Mata itu.
Ada mata, sepasang bola mata.
Ia tersenyum.
Entah, angin sore atau senyum itu yang membuatnya merinding.
Ia terdiam sesaat.
Perempuan berbalut kebaya itu berdiri dibalik jendela kecil, tersenyum.
Layaknya penduduk lain, ia tersenyum namun, ia tidak berteriak. Ia tidak berteriak dengan mulutnya.
Namun, mata itu
Mata itu berteriak.
Mata itu berteriak agar aku tidak takut.
Lindungi kami, lindungi aku. Mata itu berbicara.
Lindungi kami dari mereka.
Kini ia merasa takut, namun ia takut bukan pada apa yang tadi ia takuti.
Jujur saja.
Ia takut.
Tak bisa melindungi para orang-orang yang sudah datang disini.
Melindungi mata itu.
Terpikat, ia terpikat dengan mata itu.
Apakah seharusnya?.
Apakah seharusnya?.
Mata itu seraya berkata,
Semoga kelak kita berjumpa pula.
Iya. Ia harap dan mata itu harap.
Semoga kelak kita berjumpa pula.
Iya. Ia harap dan mata itu harap.
Doakan aku, harapkanlah aku
Gumamnya.
Lelaki itu melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Meninggalakan mata itu.
Kini ia berjalan dengan takut.
Bukan takut yang sama saat ia sampai di jogja.
Gumamnya.
Lelaki itu melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Meninggalakan mata itu.
Kini ia berjalan dengan takut.
Bukan takut yang sama saat ia sampai di jogja.
Ia rela,
Sekali lagi, ia sangat rela.
Dan sekarang kau lah, yang harus belajar.
Merelakannya.
Sekali lagi, ia sangat rela.
Dan sekarang kau lah, yang harus belajar.
Merelakannya.
...Hampir malam di Jogja
Ketika keretaku tiba
Remang remang cuaca
Terkejut aku tiba tiba
Ketika keretaku tiba
Remang remang cuaca
Terkejut aku tiba tiba
Dua mata memandang
Seakan akan dia berkata
Lindungi aku pahlawan
Dari pada sang angkara murka
Seakan akan dia berkata
Lindungi aku pahlawan
Dari pada sang angkara murka
Sepasang mata bola
Dari balik jendela
Datang dari Jakarta
Menuju medan perwira
Dari balik jendela
Datang dari Jakarta
Menuju medan perwira
Kagumku melihatnya
Sinar sang perwira rela
Hati telah terpikat
Semoga kita kelak berjumpa pula
Sinar sang perwira rela
Hati telah terpikat
Semoga kita kelak berjumpa pula
Sepasang mata bola
Seolah-olah berkata
Pergilah pahlawanku
Jangan bimbang ragu
Bersama do'aku...
Seolah-olah berkata
Pergilah pahlawanku
Jangan bimbang ragu
Bersama do'aku...
- Sepasang Mata Bola
karya : Ismail Marzuki
karya : Ismail Marzuki
Cerita pendek karya : Dilla A.N


0 komentar